Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2025

TIGA KEISTIMEWAAN MANUSIA

 Akal Hati dan Nafsu 

Akal 


- Definisi: Akal adalah kemampuan berpikir, memahami, dan menalar. Ini adalah alat utama manusia untuk membedakan yang benar dan salah, serta membuat keputusan berdasarkan logika dan informasi.

- Fungsi Utama:

- Analisis: Memecah masalah menjadi bagian-bagian kecil untuk pemahaman lebih lanjut.

- Sintesis: Menggabungkan informasi untuk membentuk pemahaman yang lebih besar.

- Evaluasi: Menilai informasi dan ide untuk menentukan validitas dan relevansinya.

- Perencanaan: Merancang tindakan dan strategi untuk mencapai tujuan.

- Karakteristik:

- Logis: Berdasarkan prinsip-prinsip logika.

- Rasional: Menggunakan alasan dan bukti.

- Objektif: Berusaha untuk tidak memihak.

- Peran: Akal membantu manusia memahami dunia di sekitar mereka, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang tepat.

 

Hati


- Definisi: Hati sering diartikan sebagai pusat emosi, perasaan, dan intuisi. Dalam konteks spiritual, hati adalah tempat nilai-nilai moral dan spiritual berada.

- Fungsi Utama:

- Emosi: Menghasilkan dan merasakan emosi seperti cinta, benci, bahagia, sedih, dan takut.

- Intuisi: Memberikan pemahaman atau wawasan tanpa melalui proses berpikir sadar.

- Empati: Merasakan dan memahami perasaan orang lain.

- Motivasi: Mendorong tindakan berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan.

- Karakteristik:

- Emosional: Dipengaruhi oleh perasaan.

- Intuitif: Mengandalkan wawasan langsung.

- Subjektif: Dipengaruhi oleh pengalaman pribadi.

- Peran: Hati memberikan warna pada pengalaman manusia, memotivasi tindakan, dan membimbing perilaku berdasarkan nilai-nilai.

 

Nafsu


- Definisi: Nafsu adalah dorongan atau keinginan kuat yang seringkali bersifat instingtif dan duniawi. Ini bisa berupa keinginan untuk makanan, seks, kekuasaan, atau hal-hal materi lainnya.

- Fungsi Utama:

- Dorongan: Memicu tindakan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keinginan.

- Motivasi: Memberikan energi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

- Kenikmatan: Memberikan rasa senang dan kepuasan saat keinginan terpenuhi.

- Karakteristik:

- Instingtif: Berdasarkan naluri alami.

- Impulsif: Mendorong tindakan cepat tanpa pertimbangan matang.

- Egosentris: Terfokus pada pemenuhan diri sendiri.

- Peran: Nafsu memastikan kelangsungan hidup dan memberikan motivasi, tetapi juga dapat menyebabkan perilaku yang merugikan jika tidak dikendalikan.

 

Hubungan Antara Akal, Hati, dan Nafsu

 

- Keseimbangan: Idealnya, akal, hati, dan nafsu harus berada dalam keseimbangan. Akal memberikan pertimbangan logis, hati memberikan nilai-nilai moral, dan nafsu memberikan energi dan motivasi.

- Konflik: Seringkali, ada konflik antara ketiganya. Misalnya, nafsu mungkin mendorong tindakan impulsif yang bertentangan dengan akal dan nilai-nilai hati.

- Pengendalian: Penting untuk mengendalikan nafsu dengan akal dan hati. Akal membantu mengevaluasi konsekuensi dari tindakan, sementara hati mengingatkan tentang nilai-nilai moral.

- Integrasi: Mencapai integrasi antara akal, hati, dan nafsu adalah tujuan utama dalam pengembangan diri. Ini berarti menggunakan akal untuk memahami emosi dan keinginan, serta menggunakan hati untuk membimbing tindakan yang selaras dengan nilai-nilai.

 

Contoh Konkret

 

- Situasi: Anda melihat makanan lezat yang tidak sehat.

- Nafsu: Ingin segera memakannya karena rasa lapar dan keinginan.

- Akal: Menyadari bahwa makanan tersebut tidak sehat dan dapat menyebabkan masalah kesehatan.

- Hati: Mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan dan menghormati tubuh.

- Keputusan: Dengan mempertimbangkan akal dan hati, Anda memutuskan untuk tidak memakan makanan tersebut atau memakannya dalam jumlah terbatas.

 

Kesimpulan

 

Akal, hati, dan nafsu adalah tiga aspek penting dari diri manusia. Keseimbangan dan integrasi ketiganya adalah kunci untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan memuaskan. Dengan memahami peran masing-masing dan bagaimana mereka berinteraksi, kita dapat membuat keputusan yang lebih bijaksana dan menjalani hidup yang lebih selaras dengan nilai-nilai kita.


Letaknya dalam Tubuh Manusia


Secara fisik, akal, hati, dan nafsu tidak memiliki lokasi yang spesifik dalam tubuh manusia seperti organ yang dapat diidentifikasi. Namun, secara simbolis dan fungsional, kita dapat mengaitkannya dengan beberapa bagian tubuh:

 

Akal

 

- Otak: Akal paling sering dikaitkan dengan otak, karena otak adalah pusat pemikiran, penalaran, dan pemrosesan informasi. Aktivitas kognitif seperti analisis, sintesis, dan evaluasi terjadi di berbagai bagian otak, terutama di korteks serebral.

 

Hati

 

- Jantung: Meskipun secara medis jantung adalah organ yang memompa darah, dalam banyak budaya dan bahasa, hati dianggap sebagai pusat emosi dan perasaan. Ungkapan seperti "patah hati" atau "mengikuti kata hati" menunjukkan hubungan simbolis ini. Secara ilmiah, emosi memang melibatkan respons fisiologis yang mempengaruhi jantung, seperti perubahan detak jantung dan tekanan darah.

- Sistem Limbik: Secara neurologis, emosi dan perasaan terkait erat dengan sistem limbik di otak, yang mencakup amigdala (pemrosesan emosi) dan hipokampus (memori emosional).

 

Nafsu

 

- Sistem Endokrin: Nafsu sering dikaitkan dengan sistem endokrin, terutama kelenjar adrenal dan kelenjar seks. Kelenjar ini menghasilkan hormon seperti testosteron dan estrogen yang memengaruhi dorongan seksual dan keinginan fisik lainnya.

- Hipotalamus: Di otak, hipotalamus memainkan peran penting dalam mengatur dorongan dasar seperti lapar, haus, dan suhu tubuh.

 

Perspektif Simbolis

 

- Akal: Kepala (melambangkan pemikiran dan kesadaran).

- Hati: Dada (melambangkan emosi dan perasaan).

- Nafsu: Perut atau organ reproduksi (melambangkan keinginan fisik dan reproduksi).

 

Kesimpulan

 

Meskipun akal, hati, dan nafsu tidak memiliki lokasi fisik yang jelas dalam tubuh seperti organ yang terpisah, kita dapat mengaitkannya dengan bagian tubuh tertentu berdasarkan fungsi dan simbolismenya. Otak adalah pusat akal, jantung dan sistem limbik terkait dengan emosi dan perasaan, dan sistem endokrin serta hipotalamus memengaruhi dorongan dan keinginan. Pemahaman ini membantu kita memahami bagaimana aspek-aspek ini berinteraksi dalam diri manusia.



Bagaimana Proses Komunikasi dalam Tubuh


Proses komunikasi antara akal, hati, dan nafsu dalam tubuh manusia melibatkan interaksi kompleks antara sistem saraf, sistem endokrin, dan proses psikologis. Berikut adalah penjelasan rinci tentang bagaimana komunikasi ini terjadi:

 

1. Sistem Saraf

 

- Akal ke Hati dan Nafsu:

- Korteks Prefrontal: Bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran rasional dan pengambilan keputusan mengirimkan sinyal ke sistem limbik (pusat emosi) dan hipotalamus (pengaturan dorongan dasar).

- Contoh: Ketika akal menyadari bahwa makan terlalu banyak makanan manis akan berdampak buruk pada kesehatan, korteks prefrontal mengirimkan sinyal ke sistem limbik untuk mengurangi keinginan (nafsu) dan memicu emosi seperti penyesalan atau rasa bersalah jika tetap makan berlebihan.

- Hati ke Akal dan Nafsu:

- Amigdala: Pusat emosi di sistem limbik mengirimkan sinyal ke korteks prefrontal dan hipotalamus.

- Contoh: Ketika hati merasakan ketakutan atau kecemasan, amigdala mengirimkan sinyal ke korteks prefrontal, memengaruhi proses pengambilan keputusan. Misalnya, seseorang mungkin menghindari situasi tertentu karena merasa tidak nyaman atau takut.

- Nafsu ke Akal dan Hati:

- Hipotalamus: Mengirimkan sinyal ke korteks prefrontal dan sistem limbik berdasarkan dorongan biologis seperti lapar, haus, dan keinginan seksual.

- Contoh: Ketika tubuh merasa lapar, hipotalamus mengirimkan sinyal ke korteks prefrontal, memengaruhi fokus dan perhatian, serta ke sistem limbik, memicu perasaan tidak nyaman atau keinginan untuk makan.

 

2. Sistem Endokrin (Hormonal)

 

- Akal ke Hati dan Nafsu:

- Hormon Stres: Ketika akal merasakan stres, hipotalamus memicu pelepasan kortisol dari kelenjar adrenal. Kortisol memengaruhi fungsi emosional dan dorongan dasar.

- Contoh: Stres kronis dapat menyebabkan perubahan suasana hati (hati) dan meningkatkan keinginan untuk makanan manis (nafsu) sebagai mekanisme koping.

- Hati ke Akal dan Nafsu:

- Oksitosin: Emosi positif seperti cinta dan kasih sayang memicu pelepasan oksitosin dari kelenjar pituitari. Oksitosin memengaruhi kepercayaan, ikatan sosial, dan perilaku prososial.

- Contoh: Merasa dicintai dan terhubung dengan orang lain dapat meningkatkan suasana hati (hati) dan mengurangi dorongan untuk mencari kepuasan instan (nafsu).

- Nafsu ke Akal dan Hati:

- Testosteron dan Estrogen: Hormon seks seperti testosteron dan estrogen memengaruhi dorongan seksual, agresi, dan perilaku kompetitif.

- Contoh: Tingkat testosteron yang tinggi dapat meningkatkan dorongan seksual (nafsu) dan memengaruhi pengambilan keputusan (akal), serta memicu perasaan kompetitif (hati).

 

3. Proses Psikologis

 

- Kognisi:

- Persepsi: Bagaimana kita menafsirkan informasi dari lingkungan memengaruhi emosi dan dorongan kita.

- Keyakinan: Nilai-nilai dan keyakinan kita memandu bagaimana kita merespons dorongan dan emosi.

- Emosi:

- Regulasi Emosi: Kemampuan untuk mengelola dan mengubah respons emosional memengaruhi perilaku kita.

- Kesadaran Diri: Memahami emosi dan dorongan kita adalah langkah pertama untuk mengendalikannya.

- Motivasi:

- Tujuan: Memiliki tujuan yang jelas membantu kita mengarahkan energi dan fokus kita.

- Disiplin Diri: Kemampuan untuk menunda kepuasan dan mengatasi godaan sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang.

 

Contoh Konkret

 

- Situasi: Seseorang mencoba menurunkan berat badan.

1. Nafsu: Keinginan untuk makan makanan yang tidak sehat (misalnya, makanan cepat saji).

2. Hati: Perasaan motivasi dan keinginan untuk mencapai tujuan kesehatan.

3. Akal: Mengingat informasi tentang manfaat makanan sehat dan konsekuensi dari makan berlebihan.

 

- Komunikasi:

- Nafsu: Hipotalamus mengirimkan sinyal lapar ke otak, memicu keinginan untuk makan.

- Hati: Sistem limbik memicu perasaan motivasi dan tekad untuk mencapai tujuan.

- Akal: Korteks prefrontal memproses informasi tentang manfaat kesehatan dan membantu membuat keputusan yang rasional.

- Hasil: Jika akal dan hati lebih kuat, seseorang akan menahan diri dari makan makanan tidak sehat dan memilih opsi yang lebih sehat. Jika nafsu lebih kuat, seseorang mungkin menyerah pada godaan dan makan makanan tidak sehat.

 

Kesimpulan

 

Komunikasi antara akal, hati, dan nafsu adalah proses kompleks yang melibatkan interaksi antara sistem saraf, sistem endokrin, dan proses psikologis. Memahami bagaimana ketiga aspek ini berinteraksi membantu kita mengelola emosi, dorongan, dan membuat keputusan yang lebih bijaksana. Dalam konteks budaya Indonesia, nilai-nilai agama dan adat istiadat memainkan peran penting dalam membimbing komunikasi ini.


Dukungan dari Pendapat Ahli 


Tentu, ada banyak pakar dari berbagai bidang yang mendukung teori tentang interaksi antara akal, hati (emosi), dan nafsu (dorongan). Pandangan ini tercermin dalam berbagai teori psikologi, neurosains, dan filsafat. Berikut adalah beberapa contoh pendapat pakar dan teori yang relevan:

 

1. Psikologi

 

- Sigmund Freud:

- Teori Psikoanalisis: Freud membagi pikiran manusia menjadi tiga bagian: id (nafsu), ego (akal), dan superego (nilai moral). Id adalah sumber dorongan instingtif, ego berfungsi sebagai mediator antara id dan realitas, dan superego mewakili norma-norma sosial dan moral.

- Pendapat: Freud menekankan pentingnya keseimbangan antara ketiga elemen ini untuk kesehatan mental. Konflik antara id, ego, dan superego dapat menyebabkan masalah psikologis.

- Carl Jung:

- Psikologi Analitis: Jung mengembangkan konsep individuasi, yaitu proses integrasi berbagai aspek kepribadian, termasuk kesadaran (ego) dan ketidaksadaran (termasuk dorongan dan emosi).

- Pendapat: Jung percaya bahwa individuasi melibatkan pengakuan dan integrasi semua bagian diri, termasuk yang gelap atau tidak diinginkan.

- Daniel Goleman:

- Kecerdasan Emosional (EQ): Goleman menekankan pentingnya kecerdasan emosional, yaitu kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain.

- Pendapat: Goleman berpendapat bahwa EQ sama pentingnya, jika tidak lebih penting daripada IQ (kecerdasan kognitif) dalam mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

 

2. Neurosains

 

- Antonio Damasio:

- Penelitian tentang Emosi dan Pengambilan Keputusan: Damasio melakukan penelitian tentang bagaimana kerusakan pada area otak yang terkait dengan emosi (seperti korteks prefrontal ventromedial) dapat mengganggu kemampuan pengambilan keputusan.

- Pendapat: Dalam bukunya "Descartes' Error," Damasio berpendapat bahwa emosi tidak hanya mengganggu pemikiran rasional, tetapi juga penting untuk pengambilan keputusan yang efektif.

- Joseph LeDoux:

- Penelitian tentang Amigdala dan Ketakutan: LeDoux mempelajari peran amigdala (pusat emosi di otak) dalam memproses ketakutan.

- Pendapat: LeDoux menunjukkan bahwa ada jalur saraf langsung dari indra ke amigdala yang memungkinkan respons cepat terhadap ancaman, sebelum pemrosesan kognitif penuh terjadi.

 

3. Filsafat

 

- Plato:

- Teori Tripartit Jiwa: Plato membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian: akal, semangat (emosi), dan nafsu.

- Pendapat: Plato percaya bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa di mana akal memerintah, semangat mendukung akal, dan nafsu dikendalikan.

- Aristoteles:

- Etika Kebajikan: Aristoteles menekankan pentingnya mengembangkan kebajikan, yaitu karakter yang seimbang antara dua ekstrem (misalnya, keberanian sebagai keseimbangan antara ketakutan dan kecerobohan).

- Pendapat: Aristoteles berpendapat bahwa mengembangkan kebajikan melibatkan melatih akal untuk mengendalikan nafsu dan menggunakan emosi secara tepat.

 

4. Perspektif Agama dan Spiritual

 

- Islam:

- Konsep Nafs: Dalam Islam, nafs merujuk pada ego atau diri, yang mencakup keinginan, emosi, dan akal.

- Pendapat: Islam menekankan pentingnya mengendalikan nafs dan menundukkannya pada kehendak Allah. Ini melibatkan menggunakan akal untuk memahami ajaran agama dan mengembangkan hati yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.

- Buddha:

- Konsep Tiga Racun: Dalam Buddhisme, tiga racun adalah ketidaktahuan (moha), kemarahan (dosa), dan keinginan (lobha).

- Pendapat: Buddhisme mengajarkan bahwa mengatasi tiga racun melibatkan mengembangkan kebijaksanaan (prajna), kasih sayang (karuna), dan disiplin diri (sila).

 

Contoh Konkret

 

- Pengambilan Keputusan Investasi:

- Akal: Analisis data dan perkiraan pasar.

- Hati: Perasaan khawatir atau optimis tentang investasi.

- Nafsu: Keinginan untuk mendapatkan keuntungan cepat.

- Pakar: Daniel Kahneman (psikolog dan ekonom) dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow" membahas bagaimana bias kognitif dan emosi dapat memengaruhi keputusan investasi.

 

Kesimpulan

 

Ada banyak pakar dari berbagai bidang yang mendukung teori tentang interaksi antara akal, hati, dan nafsu. Pandangan ini tercermin dalam berbagai teori psikologi, neurosains, filsafat, dan agama. Semua teori ini menekankan pentingnya keseimbangan, integrasi, dan pengendalian diri untuk mencapai kesehatan mental, kebahagiaan, dan keberhasilan dalam hidup.


Jumat, 23 Januari 2015

LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN


Teori Psikologi Menurut Para Ahli
 
1. Aliran psikologi tingkah laku
Teori  Pengaitan dari Edward L. Thorndike 
Berdasarkan hasil percobaannnya di Laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan, ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan” (connectionism). Teori tersebut menyatakan belajar pada hewan dan manusia pada dasrnya berlangsung menurut prinsip yang sam taitu, belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R)  yang diberikan  atas stimulus tersebut. (Orton, 1991:39; Resnick dan Ford, 1981:13). Selanjutnya Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick dan Ford, 1981:13; Hudojo, 1991:15-16) mengemukakan bahwa, terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hkum-hukum berikut. (1) Hukum Kesiapan (law of readiness), (2) Hukum Latihan (law of exercise), (3) hukum Akibat (law of effect).

Teori Penguatan B.F. Skinner 
Skinner mengembangkan tori belajarnya juga dari hasil percobaan dengan menggunakan hewan. Dari percobaannya, Skinner menyimpulkan bahwa kita dapat membentuk tingkah laku manusia melalui pengaturan kondisi lingkungan (operant conditioning) dan penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila penyajiannya mengiringi suatu tingkah laku siswa yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu, dalam hal ini berarti tingkah laku tersebut diperkuat.  Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan Karena cenderung menguatkan tingkah laku.

Teori Hirarki Belajar dari Robert M. Gagne 
Menurut Orton (1990:39), Gagne merupakan tokoh Behaviorism gaya baru (modern neobehaviourist). Dalam mengembangkan teorinya, Gagne memperhatikan objek-objek dalam mempelajari matematika yang terdiri dari objek langsung dan tidak langsung. Objek langsung adalah: fakta, keterampilan, konsep dan prinsip, sedangkan objek tak langsung adalah: transfer belajar, kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, disiplin diri, dan bersikap positif terhadap matematika. Gagne berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatan belajarnya mengikuti suatu hirarki kemampuan yang dapat diobservasi dan diukur. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne dikenal dengan “ teori hirarki belajar”.

Gagne membagi belajar dalam delapan tipe secara berurtan, yaitu: belajar sinyal (isyarat), stimulus-respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, memperbedakan, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah.Gagne berpendapat bahwa proses belajar pada setiap tipe belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan yaitu tahap: pemahaman, penguasaan, ingatan, dan pengungkapan kembali. Untuk menerapkan teori hirarki belajar Gagne ini pada pembelajaran matematika perlu diterjemahkan secara operasional yaitu: (1) untuk mengajarkan suatu topic matematika guru perlu: (a) memperhatikan kemampuan prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari topic tersebut, (b) menyusun dan mendaftar langkah-langkah kegiatan belajar serta membedakan karakteristik belajar yang tersusun secara hirarkis yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik sehingga guru dapat mengamati dan mengukurnya.  (2) guru dapat memilih tipe belajar tertentu yang dianggap sesuai untuk belajar topic matematika yang akan diajarkan.
Perkembangan kemampuan belajar  menurut Gagne (McNeil,1977) 
1. Multideskriminasi, yaitu belajar membedakan stimuli yang mirip, misalnya huruf b dan d. 
2. Belajar konsep, yaitu belajar membuat respon sederhana, seperti huruf hidup, hurup mati, dsb. 
3.  Belajar Prinsip, yaitu mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan konsep.


Aliran psikologi kognitif 
a. Teori Perkembangan Intelektual Jean Piaget
Piaget adalah ahli psikologi Swiss yang latar belakang pendidikan formalnya adalah falsafah dan biologi. Piaget  mengemukakan  Teori Perkembangan Intelektual (kognitif). Menurut Piaget ada empat tingkat perkembangan Intelektual. (Mulyani 1988, Nana Syaodih, 1988, dan Callahan, 1983):
  • Periode Sensorimotor pada umur   0 – 2  tahun 
  • Periode Praoperasional pada umur  2 – 7 tahun 
  • Periode operasi konkret pada umur  7 – 11  tahun 
  • Periode operasi formal pada umur  11 – 15 tahunb. Teori Belajar dari Jerome Bruner 
Perkembangan mental anak menurut Bruner (Toeti Soekamto, 1994) ada tiga tahap, yaitu:
1.Tahap Enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan
2. Tahap Ikonik, anak   memahami  dunia melalui  gambaran-gambaran  dan  visualisasi verbal.
3.Tahap simbolik,anak telah memilikigagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan   
logika.
Berdasarkan hasil observasi dan eksperimennya mengenai kegiatan belajar-mengajar matematika 
Bruner merumuskan empat teori umum tentang belajar matematika yaitu:
1. Teorema penyusunan (contruction theorem)
2. Teorema pelambangan (notation theorem)
3. Teorema pembedaan dan keaneka ragaman ( contrast and variation theorem)
4. Teorema pengaitan (connectivity  theorem)

Teori-teori Psikologi telah banyak membantu membentuk Landasan Pendidikan didalamnya anak dapat belajar dengan efektif.  Landasan psikologis sangat penting karena manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, sehinggap membutuhkan teori yang berbeda-beda untuk diaplikasikan dalam kasus-kasus pendidikan.  Mengingat dekatnya hubungan teori-teori tersebut dengan pendidikan, maka guru-guru modern patut mempelajarinya dan mengaplikasikannya dalam kelas.

Pengertian Landasan Psikologi Pendidikan
Untuk memahami karakteristik peserta didik dalam masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua, psikologi pendidikan mengembangkan dan menerapkan teori-teori pembangunan manusia. Sering digambarkan sebagai tahap di mana orang lulus saat jatuh tempo, teori-teori perkembangan menggambarkan perubahan kemampuan mental (kognisi), peran sosial, penalaran moral, dan keyakinan tentang hakikat pengetahuan.
            Menurut Pidarta (2007:194) Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi olaeh alam sekitar. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.

Bentuk Psikologis Pendidikan

Psikologis Perkembangan 
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah (Nana Syaodih, 1989). 
1.   Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain. 
2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini dipandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok–kelompok. Anak-anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya. 
3.  Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual.

Dari ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada 2 macam yaitu bersifat menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan mencakup segala aspek perkembangan sebagai faktor yang diperhitungkan dalam menyusun tahap-tahap perkembangan, sedangkan yang bersifat khusus hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan Piaget, Koglberg, dan Erikson.

Psikologi perkembangan menurut Rouseau membagi masa perkembangan anak atas empat tahap yaitu :
1)Masa bayi dari 0 – 2 tahun sebagian besar merupakan perkembangan fisik.
2)Masa anak dari 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti  hidup manusia primitif.
3)Masa pubertas dari 12 – 15 tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan untuk berpetualang.
4)Masa adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati, dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya.

Psikologi Belajar 
Menurut Pidarta (2007:206) belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.
Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku Kedua, perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.
Dari pengertian belajar di atas, maka kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku itu dipandang sebagai Proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu sendiri dipandang  sebagai Hasil belajar. Hal ini berarti, belajar pada hakikatnya menyangkut dua hal yaitu  proses belajar dan hasil belajar. 
Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola  tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut dengan Teori Belajar.
1.    Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara lain untuk menghapal perkalian dan melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori Naturalis bisa dipakai dalam pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hidup.
2.    Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak berkelahi dan sebagainya.
3.    Teori-teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk mengembangkan ide (Pidarta, 2007:218).

Psikologi Sosial 
Menurut Hollander (1981) psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan  ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu (dikutip Pidarta, 2007:219).
Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memilki tiga kunci utama yaitu.
1.    Kepribadian orang itu. Mungkin kita pernah mendengar tentang orang itu sebelumnya atau cerita-cerita yang mirip dengan orang itu, terutama tentang kepribadiannya.
2.    Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu setelah berhadapan, maka hubungkan dengan cerita-cerita yang pernah didengar.
3.    Latar belakang situasi. Kedua data di atas  kemudian dikaitkan dengan situasi pada waktu itu, maka dari kombinasi ketiga data itu akan keluarlah kesan pertama tentang orang itu.
Dalam dunia pendidikan, kesan pertama yang positif yang dibangkitkan pendidik akan memberikan kemauan dan semangat belajar anak-anak. Motivasi juga merupakan aspek psikologis sosial, sebab tanpa motivasi tertentu seseorang sulit untuk bersosialisasi dalam masyarakat. Sehubungan dengan itu, pendidik punya kewajiban untuk menggali motivasi anak-anak agar muncul, sehingga mereka dengan senang hati belajar di sekolah.
Menurut Klinger (dikutip Pidarta, 2007:222) faktor-faktor yang menentukan motivasi belajar adalah
1.  Minat dan kebutuhan individu.
2.    Persepsi kesulitan akan tugas-tugas.
3.    Harapan sukses.

Kontribusi Psikologi Pendidikan dalam
Proses Belajar

Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap 
Pengembangan Kurikulum. 
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristikindividulainnya. 

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metodepenyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa

Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap 
Sistem Pembelajaran 
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya. 
4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
10. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu. Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami perubahan,karena dibimbing, dan kegiatan bimbingan merupakan usaha atau kegiatan berinteraksi antara pendidik,anak didik dan lingkungan.
Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis.
Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Daftar pustaka
Sudrajat, A. 2002. Kontribusi Psikologi Pendidikan, (online), (file:///H:/Kontribusi%C2%A0Psikologi%C2%A0terhada%C2%A0Pendidikan%20_%20AKHMAD%20SUDRAJAT%20%20TENTANG%20PENDIDIKAN.html) diakses 18 Oktober 2011.
Wikipedia. (file:///H:/beberapa-landasan-pendidikan.xhtml.html) diakses 18 Oktober 2011.
Lela, AB. 2001. Landasan Psikologi. (online). (file:///H:/TUGAS%20%20%20BAB%206.%20LANDASAN%20PSIKOLOGI%20%C2%AB%20Lela68%E2%8%B2s%20Blog.html) diakses 17 Oktober 2011.

Jumat, 02 Januari 2015

Teori Belajar



Oleh: Alimardin, S.Pd



Berbicara tentang teori-teori belajar, begitu banyak dibahas dan dikaji oleh para ahli dalam berbagai litertur. Dalam tulisan ini akan dikemukakan lima  jenis teori belajar, dari aliran psikolog antaralain:

A. Teori Behaviorisme

Merupakan aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dalam artian bahwa, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRnjqCKRvIWPPJRaDSX2ZpZihKHvPXibVm1pZS44Wq0fP8R2F23cbxP4Tqfns9F3k3E8DX5g6VSNOcb_Sjro7OmzfG6N46IABHUiYzhdzuo3ncUDxRKeEY0ajMcCiFaIFEhtyQFslHRno/s320/tk.jpg
Thorndike melakukan eksperimen terhadap kucing, dari hasil eksperimennya dihasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

1)      Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

2)      Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

3)      Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. 


2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

1)      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

2)      Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.





3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
 

Eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

1)      Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

2)      Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.



Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.



4. Social Learning menurut Albert Bandura
 

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.



B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
 

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

1)      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2)      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3)      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4)      Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5)      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.



C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
 

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.



D. Teori Belajar Gestalt


Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

 
Menurut teori Gestalt, belajar adalah berkenaan dengan keseluruhan individu dan timbul dari interaksinya yang matang dengan lingkungannya. Melalui interaksi ini, kemudian tersusunlah bentuk bentuk persepsi, imajinasi dan pandangan baru. Kesemuanya, secara bersama-sama membentuk pemahaman atau wawasan (Insight), yang bekerja selama individu melakukan pemecahan masalah. Walaupun demikian pemahaman (insight) itu barulah berfungsi kalau ada persepsi/tanggapan terhadap masalahnya memahami kesulitan, unsur-unsur dan tujuannya. Sementara itu, dalam belajar menurut Gestaltis prinsipnya berkaitan dengan proses berfikir (proses problem solving) dan persepsi. Dalam hal ini terdapat empat prinsip yang dikembangkan oleh Wertheimer dan kemudian diaplikasikan Kohler mengenai berfikir dan persepsi. 

Secara detail, proses belajar dalam pandangan Gestalt ini bisa kita temukan di dalam bukunya koffka, Principles of Gestalt Psychology (1935). Persepsi adalah kemampuan manusia untuk mengenal dan untuk memahami apa yang tidak diketahuinya. Penerimaan sesuatu berarti bahwa manusia dapat mengingatpengalaman pengalaman, objek atau kejadian masa lalu. Karena itu persepsi memerlukan proses lebih banyak dari sekedar kemampuan melakukan reaksi terhadap sesuatu, yaitu pemrosesan yang sungguh- sungguh untuk mengintegrasikan sumber-sumber informasi kedalam gambaran tunggal. Dengan demikian, kesadaran manusia bukan untuk merespon terhadap persoalan (objek) didalam lingkungan dalam dasar item per item akan tetapi melihat segala sesuatu dalam satu pandangan yang utuh. 


Disisi lain, para gestaltis memberikan perhatian yang agak terdistorsi dalam perlakuan konvensional terhadap belajar, sehingga problem khusus yang ditekankan adalah bukan seleksi secara natural bentuk problem dari sudut pandang mereka. Beberapa problem yang menjadi perhatian Gestalt antara lain sebagai berikut.

1.    Kecakapan (Capacity)

Karena belajar memerlukan pembedaan dan restrukturisasi persoalan, kondisi yang lebih tinggi dari belajar sangat banyak bergantung pada kecakapan alamiah untuk memberi reaksi dalam kebiasaan itu. Dengan meningkatkan kecakapan untuk organisasi perceptual atau kemampuan untuk ”memahami” problem-problem mengarahkan untuk meningkatkan kemampuan belajar.

2.    Praktek (Practice)

Memori kita adalah bekas yang dinyatakan (secara positif tanpa bukti) dari persepsi, asosiasi sebuah produk organisasi perceptual. Hukum perceptual juga menentukan hubungan elemen - elemen di dalam memori. Karena itu, pengulangan pengalaman akan membangun secara kumulatif pada pengalaman - pengalaman yang lebih dulu hanya jika kejadian yang kedua dianggap sebagai sesuatu keadaan pemunculan dari pengalaman terdahulu.

Motivasi

3.    (Motivation) Hukum empiris dari akibat, mengenai peran reward dan hukuman, diterima oleh psikologi Gestalt, tetapi mereka berbeda dari Thorndike di dalam memberi interpretasi. Mereka percaya bahwa akibat yang datang kemudian tidak terjadi ”secara otomatis dan tanpa di sadari” untuk memperkuat
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1)      Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.

2)      Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).

3)      Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.

4)      Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.



Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

1)      Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

2)      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3)      Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

4)      Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5)      Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.



E. Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain.Sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

Hasil belajar bergantung pada pengalaman dan perspektif yang dipakai dalam interpretasi pribadi. Sebaliknya, fungsi pikiran menginterpretasi peristiwa, obyek, perspektif yang dipakai, sehingga makna hasil belajar bersifat individualistik. Suatu kegagalan dan kesuksesan dilihat sebagai beda interpretasi yang patut dihargai dan sukses belajar sangat ditentukan oleh kebebasan siswa melakukan pengaturan dari dalam diri siswa. Tujuan pembelajaran adalah belajar how to learn. Penyajian isi KBM fakta diinterpretasi untuk mengkonstruksikan pemahaman individu melalui interaksi sosial.

Untuk mendukung kualitas pembelajaran maka sumber belajar membutuhkan data primer, bahan manipulatif dengan penekanan pada proses penalaran dalam pengambilan kesimpulan. Sistematika evaluasi lebih menekankan pada penyusunan makna secara aktif, keterampilan intergratif dalam masalah nyata, menggali munculnya jawaban divergen dan pemecahan ganda. Evaluasi dilihat sebagai suatu bagian kegiatan belajar mengajar dengan penugasan untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata sekaligus sebagai evaluasi proses untuk memecahkan masalah.

Selama ini masyarakat kita berada dalam suatu budaya dimana belajar dipandang sebagai suatu proses mengkonsumsi pengetahuan. Guru bukan sekadar fasilitator, melainkan sebagai sumber tunggal pengetahuan di depan kelas. Pembelajaran yang sedang dikampanyekan, disosialisasikan justru berbeda dengan pandangan tersebut. Belajar adalah suatu proses dimana siswa memproduki pengetahuan. Siswa menyusun pengetahuan, membangun makna (meaning making), serta mengkonstruksi gagasan. Pada dasarnya teori kontruktivisme menekankan bahwa belajar adalah meaning making atau membangun makna, sedang mengajar adalah schaffolding atau memfasilitasi. Oleh karena itu skenario suatu pembelajaran maupun kegiatan belajar mengajar yang hanya terhenti pada tahapan dimana siswa mengumpulkan data dan memperoleh informasi dari luar yakni guru, narasumber, buku, laboratorium dan lingkungan ke dalam ingatan siswa saja, belumlah cukup, karena siswa masih berada pada tingkatan mengkonsumsi pengetahuan. Karena itu perlu langkah-langkah yang menunjukkan tindakan siswa mengkonstruksi gagasan untuk memproduksi pengetahuan. Langkah-langkah inilah yang sedang disosialisasikan dua tahun terakhir